Rabu, 22 April 2020

DEKLARASI


Sahabat saya Dede BM memaknai DEKLRASI adalah;

Deklarasi adalah starting point darimana panah di lepaskan,melesat lurus,mencong kekiri atau ke kanan tergantung koordinat titik panah di lepaskan.Deklarasi adalah juga entry point.pintu gerbang;hendak kemana bahtera di layarkan ke barat,ke timur,ke utara atau ke selatan tergantung political wiii awak kapal.
   Deklarasi atau proklamasi adalah pengumuman atau pernyataan (statemen) atau I’tikad (commitment) atau juga iklan bahwa sesuatu telah ada atau muncul dengan segala visi dan misinya.Maka produk baru di iklankan,anak lahir di besarkan berkeluarga di nikahkan,merintis kerja di sumpah jabatan atau Negara berdiri di proklamasikan.Begitulah kehidupan musti di mulai,sayap musti di kepakkan,layar musti di bentangkan,langkah musti di ayunkan segala sesuatu musti di niatkan.
   Akan tetapi ketika anak panah berbalik arah menghujam kita,ketika bahtera melaju ke tubir jurang,pulau harapan hanya janji muluk fata morgana.Orang –orang bertanya-tanya; “hendak di bawa ke mana negeri ini”?.
   Masyarakat terjebak dalam lingkaran syaitan yang tidak berujung pangkal,sebuah kondisi yang penuh ketidak pastian “jalan taka da ujung kata Asrul sani (almarhum),atau “labirin sumurtak berdasar” kata Allahyarham Arifin C Noor,”Tajam tak bertepi” sayup-sayup suara Aci Bimbo,merintih kepedihan,kesepian yang panjang,kengerian yang mencekam.Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam,yang di liputi oleh ombak,di atasnya ombak pula,di atasnya lagi awan awan gelap gulia bertindih-tindih,apabila Ia mengeluarkan tangannya,tiadalah Ia dapat melihatnya,dan barang siapa yang tidak di eri cahaya oleh Allah tiadalah Ia mempunyai cahaya sedikitpun(Qs:23;40)
   Secara makro pun peradaban hari ini sengat gelap sehingga roda kehidupan menggelinding tanpa arah,sampai-sampai Anthony Gidden,pencetus “the trird way” atau social democrat konon  beliau di sebut- sebut sebagai penasehat Tony Blair,Gerhard scoeder dan “mendiang “ presiden Bill Clinton memformulasikannya dengan metafora: run a way world: dunia yang tunggang langgang,berlarian entah kemana.Bahkan dengan artikulasi yang lebih ekstrim kehidupan hari ini,beliau gambarkan sebagai Juggernaunt: sebuah truk besar yang menggelinding tanpa kendali,memporak porandakan seluruh sendi- sendi kehidupan.
   Untuk merubah kondisi dunia ini,dari mana kita mulai…?.Hari ini ketika transformasi informasi sudah sedemkian cepat,duniahanya sebuah titik.Apa yang terjadi di dunia makro itu juga yang terjadi di tingkat mikro (Indonesia).Bahkan konon ada sebagian orang yang percaya bahwa Indonesia (Jawa) adalah pusat dunia.Maka kita bangsa Indonesia harus memulainya.Mari kita lihat dari awal berdirinya republic ini.Kita sudah sangat lama mengkaitkan,bahkan mensinyalir  kata kemerdekaan(kebebasan).Dengan proklamasi.Jika proklamasi di artikan kebebasan maka yang terjadi adalah liberalism yang bermuara jungle law dengan jargon-jargonya yang serem semisal: Homo homini lupusnya Thomas Hobes atau struggle for life dan survival the fittest-nya Darwin.Lukman Hadibroto kandidat Doctor pada  Universitas kalifornia,Berkeley USA mengulas fenomena ini dengan sangat lugas dalam sebuah esei kemerdekaan dengan judul” menentang penjajah berjiwa penjajah”.
   Proklamasi adalah sebuah niat,statemen atau komitmen yang secara vertical harus sahih ,valid menurut syara’ dan secara horizontal di terima secara ilmiah dan empiric oleh logika akal sehat social kemasyarakatan yang universal.Maka proklamasi secara vertical adalah sebuah pemakluman untuk ibadah kepada Allah dan secara horizontal merupakan kontrak social(social contract) –meminjam istilah jhon locke – untuk tunduk dan taat kepada kaidah-kaidah Negara sebagai manifestasi ibadah kepada Allah swt.
   Karena proklamasi di artikan kebebasan,Negara yang muncul adalah sebuah interest group sebuah gerobak untuk politik berdagang sapi.Jika sapinya laku kepentingannya sudah di raih maka negaranya atau gerobaknya di tinggalkan begitu saja,ibarat kulit di tinggalkan kacangnya.Dalam kondisi seperti itu Negara teronggok sebagai out group yang hina dan menjijikkan,sebuah keranjang sampah: Na’udubillah,para abdi negaranya ,eh para blantik sapi itu tak sungkan-sungkan untuk  menjerumuskan negaranya  dalam timbunan hutang dan kemiskinan,padahal kalau mau mereka mampu untuk melunasinya karena kaya raya.
   Seandainya, Proklamasi adalah niat “ibadah kepada Allah” otomatis Negara yang lahir adalah sebuah referens group atau in group, sebuah Negara tempat mengabdi dan bernaung,tempat untuk menggantungkan seluruh harapan dan cita- citanya tanpa takut di murkai Allah.Oleh karena abdinya Negara tersebut akan di junjung tinggi di pikul duwur di pendem jero,di timang- timang bagai menimang kuning telur,tidak mungkin mereka berani menghianatinya.
   Lantas kesalahan berasal dari mana?The sin of legislative adalah sebuah idiom yang popular dalam teori politik.Sebelumrepublik berdiri,legislator adalah konseptor,para founding father.Ketika menghadapi tekanan dari berbagai kelompok kepentinmgan,mereka gamang,sehingga ragu untuk tengadah ke langit.Ahirnya konsepnya melenceng dari kehendak Ilahiyah yang berakibat kehancuran hari ini,walaupun konsepnya di amandemen beulang kali,paling banter seperti Amerika maju terus tapi despot dan arogan.
   Kita ngga usah ber andai- andai karena nun di alam sana ada founding father yang yakin: kumandangnya kalam Ilahi di tunggu- tunggu dan di dukung oleh jutaan nurani yang bersih yang mendambakan negeri “Rahmatan lil ‘alamin”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar