Sahabat saya Dede BM memaknai DEKLRASI
adalah;
Deklarasi adalah starting point darimana panah di
lepaskan,melesat lurus,mencong kekiri atau ke kanan tergantung koordinat titik
panah di lepaskan.Deklarasi adalah juga entry point.pintu gerbang;hendak kemana
bahtera di layarkan ke barat,ke timur,ke utara atau ke selatan tergantung
political wiii awak kapal.
Deklarasi atau
proklamasi adalah pengumuman atau pernyataan (statemen) atau I’tikad
(commitment) atau juga iklan bahwa sesuatu telah ada atau muncul dengan segala
visi dan misinya.Maka produk baru di iklankan,anak lahir di besarkan
berkeluarga di nikahkan,merintis kerja di sumpah jabatan atau Negara berdiri di
proklamasikan.Begitulah kehidupan musti di mulai,sayap musti di kepakkan,layar
musti di bentangkan,langkah musti di ayunkan segala sesuatu musti di niatkan.
Akan tetapi ketika
anak panah berbalik arah menghujam kita,ketika bahtera melaju ke tubir
jurang,pulau harapan hanya janji muluk fata morgana.Orang –orang
bertanya-tanya; “hendak di bawa ke mana negeri ini”?.
Masyarakat terjebak
dalam lingkaran syaitan yang tidak berujung pangkal,sebuah kondisi yang penuh
ketidak pastian “jalan taka da ujung kata Asrul sani (almarhum),atau “labirin
sumurtak berdasar” kata Allahyarham Arifin C Noor,”Tajam tak bertepi”
sayup-sayup suara Aci Bimbo,merintih kepedihan,kesepian yang panjang,kengerian
yang mencekam.Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam,yang di liputi
oleh ombak,di atasnya ombak pula,di atasnya lagi awan awan gelap gulia
bertindih-tindih,apabila Ia mengeluarkan tangannya,tiadalah Ia dapat
melihatnya,dan barang siapa yang tidak di eri cahaya oleh Allah tiadalah Ia
mempunyai cahaya sedikitpun(Qs:23;40)
Secara makro pun
peradaban hari ini sengat gelap sehingga roda kehidupan menggelinding tanpa
arah,sampai-sampai Anthony Gidden,pencetus “the trird way” atau social democrat
konon beliau di sebut- sebut sebagai
penasehat Tony Blair,Gerhard scoeder dan “mendiang “ presiden Bill Clinton
memformulasikannya dengan metafora: run a way world: dunia yang tunggang
langgang,berlarian entah kemana.Bahkan dengan artikulasi yang lebih ekstrim
kehidupan hari ini,beliau gambarkan sebagai Juggernaunt: sebuah truk besar yang
menggelinding tanpa kendali,memporak porandakan seluruh sendi- sendi kehidupan.
Untuk merubah
kondisi dunia ini,dari mana kita mulai…?.Hari ini ketika transformasi informasi
sudah sedemkian cepat,duniahanya sebuah titik.Apa yang terjadi di dunia makro
itu juga yang terjadi di tingkat mikro (Indonesia).Bahkan konon ada sebagian
orang yang percaya bahwa Indonesia (Jawa) adalah pusat dunia.Maka kita bangsa
Indonesia harus memulainya.Mari kita lihat dari awal berdirinya republic
ini.Kita sudah sangat lama mengkaitkan,bahkan mensinyalir kata kemerdekaan(kebebasan).Dengan
proklamasi.Jika proklamasi di artikan kebebasan maka yang terjadi adalah
liberalism yang bermuara jungle law dengan jargon-jargonya yang serem semisal:
Homo homini lupusnya Thomas Hobes atau struggle for life dan survival the
fittest-nya Darwin.Lukman Hadibroto kandidat Doctor pada Universitas kalifornia,Berkeley USA mengulas
fenomena ini dengan sangat lugas dalam sebuah esei kemerdekaan dengan judul”
menentang penjajah berjiwa penjajah”.
Proklamasi adalah
sebuah niat,statemen atau komitmen yang secara vertical harus sahih ,valid
menurut syara’ dan secara horizontal di terima secara ilmiah dan empiric oleh
logika akal sehat social kemasyarakatan yang universal.Maka proklamasi secara
vertical adalah sebuah pemakluman untuk ibadah kepada Allah dan secara
horizontal merupakan kontrak social(social contract) –meminjam istilah jhon
locke – untuk tunduk dan taat kepada kaidah-kaidah Negara sebagai manifestasi
ibadah kepada Allah swt.
Karena proklamasi
di artikan kebebasan,Negara yang muncul adalah sebuah interest group sebuah
gerobak untuk politik berdagang sapi.Jika sapinya laku kepentingannya sudah di
raih maka negaranya atau gerobaknya di tinggalkan begitu saja,ibarat kulit di
tinggalkan kacangnya.Dalam kondisi seperti itu Negara teronggok sebagai out
group yang hina dan menjijikkan,sebuah keranjang sampah: Na’udubillah,para abdi
negaranya ,eh para blantik sapi itu tak sungkan-sungkan untuk menjerumuskan negaranya dalam timbunan hutang dan kemiskinan,padahal
kalau mau mereka mampu untuk melunasinya karena kaya raya.
Seandainya,
Proklamasi adalah niat “ibadah kepada Allah” otomatis
Negara yang lahir adalah sebuah referens group atau in group, sebuah Negara
tempat mengabdi dan bernaung,tempat untuk menggantungkan seluruh harapan dan
cita- citanya tanpa takut di murkai Allah.Oleh karena abdinya Negara tersebut
akan di junjung tinggi di pikul duwur di pendem jero,di timang- timang bagai
menimang kuning telur,tidak mungkin mereka berani menghianatinya.
Lantas kesalahan
berasal dari mana?The sin of legislative adalah sebuah idiom yang popular dalam
teori politik.Sebelumrepublik berdiri,legislator adalah konseptor,para founding
father.Ketika menghadapi tekanan dari berbagai kelompok kepentinmgan,mereka
gamang,sehingga ragu untuk tengadah ke langit.Ahirnya konsepnya melenceng dari
kehendak Ilahiyah yang berakibat kehancuran hari ini,walaupun konsepnya di
amandemen beulang kali,paling banter seperti Amerika maju terus tapi despot dan
arogan.
Kita ngga usah ber
andai- andai karena nun di alam sana ada founding father yang yakin:
kumandangnya kalam Ilahi di tunggu- tunggu dan di dukung oleh jutaan nurani
yang bersih yang mendambakan negeri “Rahmatan lil ‘alamin”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar