Rabu, 03 November 2010
Al'ibadat
Setelah panjang lebar kita membicarakan tentang khalifah,bahwa khalifah adalah amanat Allah dan sebagai tugas bagi manusia,maka marilah kita membahas sekitar masalah 'ibadah,di mana i'badah itu wajib atas manusia,untuk itu mari kita mulai dengan ayat ayat sebagai berikut:Wama khalaqtul jinna wal insanu ila liy'a budun,ma uridu minhum min rizki wama uridu anyut'imuna anallaha huwa razaku dul kuwatul matiin(Al-zuriyat 56-58),kemudian ber turut turut dalam surah(Al-bayinnah;5),(Al-taubah;21),(quraisy;3-4),apabila kita tadaburi ayat-ayat tersebut,maka manusia di ciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepadaNya,ya itu agar menjadi hamba Allah tidak untuk yang lainya,maka inilah makna dari firman Allah:liyang budun dalam surah al-zuriyat;56 dan yang lainya yang tersebut di atas tadi.Dan sesungguhnya yang di sebut 'ibadah adalah meninggikan dien Allah seperti yang tersebut dalam kalimat;muhlisina lahuddin,wahdahu la syarikalah,dengan firmanNya;illahu wahidan laillaha illahuwa subhanahu 'ama yusrikun:Dialah satu-satunya yang wajib di taati dan tiada sekutu bagiNya,dengan rububiyah Allah di 'alam ini,dengan firmanNya;Rabba hadal bait(quraisy)untuk keselamatan manusia di dalam hidupnya.Untuk lebih jelasnya mari kita bahas tentang risalah dan dalilil dalilnya adalah yang termaktub dalam surah:(Al-mu'min;78),(Ibrahim;38)dan (Al-mu'minun;44),dari ayat-ayat tersebebut,menjelaskan kepada kiata bahwa Allah telah mengutus Rasulnya secara berkesinambungan mulai dari bapaknya manusia,sampai di bangitkanya Muhammad Rasulullah,untuk kemudian setelah Rasulullah Muhammad saw wafat,maka kita tidak mungkin mundur ke belakang(murtad),tapi wajib melanjutkan melaksanakan risalahnya dengan cara,memenangkan dinul islam di atas din-din yang ada yang di anut orang-orang musyrik,tidak seperti kita hari ini yang justru ikut bersama orang-orang musyrik menyekutukan Allah dalam melaksanakan rububiyahNya.Tidak seperti Rasulullah pada saat di yatsrib,Beliau justru memposisikan Islam di atas segala din yang ada yang pada saat itu di anut oleh orang orang yahudi mahupun orang orang nasrani dan Rasaulullah sepenuhnya memimpin.Kemudian setelah kehidupan berlanjut terus sampai kepada kita hari ini di Indonesia,yang kepemimpinanya di awali oleh sang proklamator Bung Karno dengan azas tunggalnya Pancasila yang sesungguhnya juga di gali dari nilai nilai dasar Islam,walau sudah di kebiri,yaitu di sila ketuhanan yang maha esa,yang konon katanya tujuh kata di belakangnya di hapus karena mewajibkan umat islam melaksanakan syariatnya,dengan alasan mempertahankan persatuan Indonesia,karena kalau tujuh kata itu tidak di hapus akan ada beberapa penganut din lain akan memisahkan diri dari negara kesatuan republik Indonesia.Ahirnya dalam system pemerintahanya di balik seratus delapan puluh derajat,Islam di sejajarkan dengan: nasrani,hindu,budha,kaharingan dan kepercayaan lain yang di izinkan oleh Negara dengan di beri satu wadah yang namanya Departemen agama,yang juga sjajar pula dngan department departement lain,kemudian sepenuhnya di atur oleh Negara,dan ini secara politis di dukung sepenuhnya oleh negara negara lain di dunia yang anti terhadap islam,dengan posisi seperti ini mungkinkah islam tegak.Ironisnya umat yang mengaku Islam dan sangat mencintai Rasulullah saw,tidak menyadarai bahwa dengan kondisi seperti ini berarti kita bersama sama sedang menghianati Allah dan Rasulnya dengan penghianatan yang sebesar besarnya karena mengabaikan sunah(ketentuan)Nya,yaitu:Rububiyah Allah swt.Dan yang perlu di ketahui oleh umat yang mengaku Islam hari ini adalah bahwa tidak cukup hanya melaksanakn syariat tanpa mengetahui hakikat,sebagaiman juga tidak ada maknanya ilmu tanpa amal,atau tidak bermakna sebaik apapun teori tanpa di praktekan.Kewajiban shalat adalah symbol kehidupan islam,di dalam shalat harus berjamaah dan harus ada imam, dan kita yang mamum wajib mengikuti imam:imam takbir kita(ma'mum) juga takbir,imam rku' kita harus ruku',imam sujud kita harus sujud,dan seterusnya dan seterusnya.Begitu juga dalam kehidupan bernegara yang merupakan hakikat dari pada shalat,bahwa kita harus punya pemimpin yang se iman bukan yang pura pura se iman,sehingga kita sebagai warga negara tinggal sami'na wata'na,karena segala perintah pimpinan selalu berdasarkan sumber suci ya itu Al-qur'an.Wallahu a'lam bi sawab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar