Minggu, 20 Januari 2019

PESTA DEMOKRASI 2019

PEMILU (Pemilihan Umum) di Negara Republik Indonesia,lebih populer dengan istilah Pesta Demokrasi,tahun 2019 adalahPemilu serentak yang pertama di lakukan sejak Indonesia merdeka,serentak yang di maksud adalah dari memilih Presiden,Dewan Perwakilan Rakyat Pusat sampai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat satu (propinsi) mahupun tingkat dua (kabupaten).

 
   Begitu gegap gempitanya mereka calon Presiden dan calon Wakil Presiden dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi kampanye dan melakukan debat calon Presiden dan calon wakil Presiden,seluruh masyarakat turut sibuk bahkan bisa di bilang ikut bertungkus lumus memperjuangkan calon yang di dukungnya.Persiapan untuk pencalonan baik calon Presiden,wakil Presiden mahupun calon Legislatif sudah menyita waktu hampir dua tahun,jadi kalu di hitung- hitung waktu untuk menunaikan tugasnya hanya tiga tahun dari lima tahun masa kerjanya,sangat merugikan sekali,siapa yang di rugikan siapa lagi kalu bukan seluruh rakyat.sementara para kandidat sibuk dengan persiapan pesta demokrasi hampir di seluruh daerah di indonesia mengalami dampak yang sangat memprihatinkan seperti: Kenaikan harga bahan pokok,kenaikan gas LPG karena kekurangan pasokan atau bisa juga permainan para tengkulak,rakyat kecil tidak tahu dan tidak mau tahu sebabnya, rakyat kecil berpikir sederhana saja: yang penting masih ada uang untuk membeli ngga mau repot protes sana - sini walaupun hatinya menjerit,namun semakin hari semakin tahu bahwa menurut bacaan masyarakat ekonomi lemah yang biasa ngobrol di warung,mereka berpendapat bahwa setiap ada perhelatan pesta demokrasi selalu saja bahan- bahan kebutuhan pokok naik secara signifikan,kalau dulu masih ada operasi pasar sampai lebih dari tiga kali, kalau tahun ini (2019) hampir tak terdengar ada operasi pasar,mungkin cara berpikirnya berubah kalau dulu pengin di anggap pahlawan,kalau sekarang lebih baik untuk serangan fajar bisa lebih efektif,itulah salah satu kelemahan dan kejelekan Demokrasi,karena demokrasi suara terbanyaklah yang menang,sehingga para kandidat menempuh berbagai macam cara untuk meraih dukungan,bahkan menghalalkan segala cara ahirnya money politik tidak dapat di hindarkan.

   Begitu bebasnya hari ini bersaing antar kandidat, sehngga cara- cara kampanyepun begitu bebas saling memfitnah,saling menyebar berita hoax,bahkan saling menuduh si A PKI si B pelanggar ham berat dan lain sebagainya,bahkan yang lebih lucu lagi ke dua pasangan calon sama- sama berkunjung ke tempat tokoh sepuh yang terkenal di sapa mbah mun,salah satu calon datang duluan selisih kurang lebih satu bulan, pasangan Prabowo Sandi datang duluan mohon do'a kepada beliau,beliau mendo'akan dengan bahasa arab dengan menyebut namanya,kurang lebih satu bulan atau dua bulan datanglah pasangan calon yang lain ya itu Jokowi ma'ruf amin juga mohon do'a,beliau kiai Maimun mendo'akan juga sebagaiman mendo'akan pasangan Prabowo Sandi,namun kali ini mbah mun salah ucap yang di sebut justru Pasangan Prabowo Sandi,sontak menjadi firal,pasangan Prabowo Sandi mengklaim bahwa tangan Allah menghendaki kemenangan pasanganya untuk memimpin negeri ini di lima tahun yang akan datang,sementara pasangan Jokowi,Ma'ruf Amin menyatakan bahwa mbah mun salah sebut dalam do'anya,ahirnya menjadi perdebatan panjang antara dua kubu capres dan cawapres,mereka saling serang dengan
Hasil gambar untuk gambar anggota dpr
Hasil gambar untuk gambar calon presiden yang kadang-kadang,bukan kadang-kadang malah bisa di bilang tidak wajar menurut akal orang awam,apalagi kalau melihat mereka baik capres dan cawapres maupun tim suksesnya rata-rata bertitel Doktor,yaah se rendah-rendahnya S1 sangat tidak wajar.Apa lagi tahun dua ribu sembilan belas ini adalah pemilu serentak di samping memilih capresdan cawapres juga memilih calon llegislatif tingkat pusat,daerah tingkat satu dan daerah tingkat dua,kemudian  DPD jadi nanti di bilik pemilu kita akan di sodori lima lembar kertas pemilu,ini juga tidak kalah gegap gempitanya,masing-masing calon langsung silaturrahim ke rumah- rumah warga dalam rangka sosialisasi,sekaligus melamar calon pemilih istilah yang mereka (CALEG)pakai dengan mahar ada yang lima puluh ribu per orang ada yang seratus ribu dan bahkan lebih dari itupun ada juga,nah hal- hal seperti ini bagi bawaslu sangat sulit untuk mendeteksi karena waktu silaturrahimnyapun tidak di ketahui oleh bawaslu,sementara keinginan calon legislatif istilahnya gayung bersambut masyarakatpun sedang mengharap yang seperti itu.Mungkin menurut undang- undang pemilu bisa di bilang money politik tetapi pencegahanya tidak mungkin bisa di capai secara maksimal.Tapi kita bangsa indonesia masih punya harapan mudah-mudahan setelah PEMILU selesai rakya kembali damai,itu do'a kita semua semoga Allah membimbing kita semua.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar